Martapura : Kemilau Kota Intan

Berada sekira 45 km dari timur Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Martapura adalah kota kecil yang “berkilau” secara harfiah karena memang dikenal sebagai penghasil banyak batu mulia. Secara administratif, Martapura adalah ibu kota Kabupaten Banja yang dikenal sebagai pusat pengolahan berlian sekaligus tempat transaksi berlian di Kalimantan. Martapura disebut-sebut sebagai salah satu daerah penghasil batu mulia berkualitas terbaik di dunia.

Bagi Anda penyuka perhiasan dan aksesoris seperti kalung, gelang, cincin, bros, dan lainnya terutama yang terbuat dari berlian murni, emas, perak, dan berbagai batu permata lain, maka Martapura adalah tempat yang tepat untuk berburu perhiasan tersebut. Kualitas perhiasan Martapura yang secara global diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Berlian dan batu mulia Martapura dapat dengan mudah ditemukan di pasar berlian dan perhiasan yang dikenal dengan nama Pasar Cahaya Bumi Selamat.

Pasar ini bisa jadi salah satu pasar berlian yang unik karena jauh dari kesan kompleks toko perhiasan yang mewah. Pasar Cahaya Bumi Selamat hanyalah berupa konglomerasi toko sederhana dan beberapa pedagang asongan. Bahkan tidak jarang terkadang transaksi bernilai jutaan rupiah dilakukan antara dua orang di jalan dan bukannya di sebuah toko mewah. Namun begitu, intan, perak, emas, dan batu mulia lain yang diperjualbelikan di sini kualitasnya tersohor dan tak diragukan lagi.

Selain menjadi tempat diperjualbelikannya batuan mulia Kalimantan, Martapura juga dikenal sebagai salah satu lokasi penambangan atau pendulangan intan dan batu mulian lain. Jika Cempaka di Banjarbaru menarik perhatian dunia dengan intan Trisaktinya seberat 166,75 karat pada 1965 maka Martapura juga dikenal dunia karena intan bernama Putri Malu. Intan seberat sekira 200 karat ini ditemukan di lokasi penambangan Pengaron. Konon intan yang ditemukan pada 2008 ini adalah intan terbesar yang pernah ditemukan di Kalimantan.

Di jantung Kota Martapura, terdapat banyak rumah pengrajin intan yang menggunakan teknik tradisional maupun modern. Paling terkenal di antaranya adalah pusat pengrajin intan Kayu Tangi tepat di belakang Pasar Cahaya Bumi Selamat. Di tempat tersebut intan hasil mendulang dibawa untuk dipoles dan diolah menjadi berbagai bentuk dan ukuran dengan menggunakan teknik tradisional.

Selain berjuluk Kota Intan, Martapura yang kental dengan nuansa religiusnya juga dikenal sebagai kota santri dan bahkan disebut “serambi Mekkah” sebagaimana Aceh. Tidak jarang tampak huruf Arab bersanding dengan huruf Latin pada petunjuk jalan atau beberapa bangunan. Di kota ini terdapat pesantren bernama Darussalam yang telah mencetak banyak santri. Salah satu bangunan yang paling mewakili kesan religius di kota ini adalah Masjid Agung Al Karomah (sebelumnya Masjid Jami Martapura). Masjid ini merupakan yang tertua dan terbesar di Martapura. Dengan sedikit sentuhan arsitektur Eropa, masjid ini memiliki kubah berbentuk bawang raksasa dihiasi ragam warna yang indah.

Kota Martapura juga memiliki peran penting dalam sejarah karena sempat menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Adam 1825-1857. Nama "Martapura" sendiri konon diberikan oleh Sultan ke-4 Banjar, Sultan Mustain Billah pada 1630.